Barack Obama, Hm…

21 01 2009

led_flexible_star_lightsWell. I like this new president since the first time i saw him on TV. I appreciate and wish he will bring a better era for the world, especially for the better peaceful world. I assume he had a lot of plans in his mind. And I really expect, he can keep people’s trust well.

All people loves his humble and confident personality. So many hopes on him. Not only that, he could convince everyone to choose him, and give him trust to lead a large state of countries. So many expectation, and we are all bored with wars and wars in every place American troops come. People let him win, let him hold the super-power, I really wish, we’ll not be disappointed.

I am really proud because he’ve ever been living here, in Indonesia for couple years. And most Indonesian agree that he deserves to be a president. I wish it’s not just a useless trust, not only a restless hope, not become a great-super dream which never been realized. “Congratulations, and please keep your words so that we can trust a good president in U.S is not only legend or history.”





UAN for My Sister

17 01 2009

twist-lampPagi ini aku pergi ke sebuah SMPN Kota Jambi untuk menggantikan ibuku menghadiri pertemuan wali murid. Judul pertemuan ini adalah Sosialisasi UAN 2009. Ya, karena adikku adalah seorang   siswa kelas 3, kami semua harus bekerjasama mempersiapkan mentalnya.

Ujiaan akhir nasional, seperti biasa, didominasi empat mata pelajaran angker seperti Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Matematika dan IPA. Standar nilai rata-rata 5,5 adalah patokan kali ini.  Ujian akkhir itu dikabarkan dimulai 29 April nanti.

Dalam pertemuan tersebut, dikemukakanlah berbagai masalah klasik menjelang UAN. Semisal para guru yang tergopoh-gopoh mendisiplinkan murid agar dengan tertib mengikuti program les di sekolah. Beberapa orangtua mengeluhkan kekhawatiran mereka tentang kelulusan anaknya nanti ke sekolah di jenjang Sekolah Menengah. Ada juga seorang bapak yang mengusulkan agar para guru ikut serta dalam mengajarkan pendidikan moral kepada anak-anak.

Well, pertemuan ini adalah sosialisasi tentang UaN sebenarnya, namun masalah meluas di dalam forum. Namun sebagian besar wali murid menyambut baik cara Kepala Sekolah men-transparansi masalah les-yang dikatakan diberikan kepada murid secara gratis, UAN, hingga masalah pemasukan dana yang disubsidi pemerintah kota Jambi (berhubung wali kota terpilih pernah menjanjikan pendidikan gratis bagi warga kota Jambi). Termasuk komplain  tentang PR pelajaran Kesenian seperti merajut dan membuat payet yang dianggap terlalu menyita waktu siswa di rumah.

So, wish you all the best, Dek! Belajar, rajin mengulang, dan jangan tinggalkan shalat fardhu-mu.





Jika Andrea Hirata dan Kang Abik Tak Pernah Ada

15 01 2009

vintage-fountain-pens1“Ketika keduanya muncul, penulis lain seolah tiarap…”

Kalimat itulah yang melintas di benakku saat menggores-goreskan pena untuk menggambarkan kedua penulis yang kini begitu tersohor. Tapi aku segera membenahi kalimat tersebut,  mungkin ini berlebihan pikirku. Pujian yang tidak proporsional hanya akan membuat pihak yang dipuji menjadi oposisi dan terkesan tidak terjangkau. Akibatnya, bisa-bisa mereka menerima kritik yang keras jika kelak membuat sesuatu yang dianggap kekurangan atau cela, atau juga terlalu diteliti tiap jejak dan sepak terjangnya.

Baiklah, kita masuk ke inti cerita. Beberapa hari lalu aku membaca sebuah blog yang memperbandingkan kedua penulis Indonesia, Andrea Hirata dan Habibrurrahman El-Shirazy yang lebih akrab disapa Kang Abik. Masing-masing orang punya pendapat tersediri mengenai dua penulis kebanggaan Indonesia ini. Bolehlah dibilang, tanpa keduanya, sastra Indonesia tidak akan seheboh saat ini.

Aku akan menarik garis besar saja dari kapasitas keduanya, yaitu menulis novel, sebuah karya sastra yang tidak sembarang.

Jika biasanya sebagian novel itu bersifat memaksa.  Memaksa otak untuk bertempur berat demi memahami diksi yang susah dan metafor yang absurd.  Maka kali ini, kita mendapati karya sastra berupa novel-novel tebal yang sejauh ini dibahasakan dengan rinci agar dapat dipahami.

Jika biasanya, sebagian karya sastra novel memuat dunia imajiner yang tidak menapak di bumi, kali ini kita mendapati novel dengan setting dan cerita yang clear.

Jika biasanya, sebagian karya sastra yang dianggap bagus itu dari luar negeri, kali ini luar biasa. Dari negeri Indonesia! Negeri kita sendiri.

Kedua penulis kita ini memiliki beberapa kesamaan tentang beberapa hal.

Keduanya sama-sama berpikir bagaimana sebuah karya sastra biisa berefek luas. Bagaimana agar dapat membangkitkan semangat memble bangsa Indonesia. Bagaimana dapat menggedor semangat kemandirian dan karakter tahan banting generasi muda. Bagaimana agar ide-ide brilian sampai kepada masyarakat. Bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampaikan paparan yang sebenarnya cukup pelik dipahami awam dalam karya tulis lain.

Berdasarkan latar belakang, keduanya mengaku berangkat dari keluarga jelata, dan rela pergi jauh dari tanah airnya demi menenggang nasib keluarga, dan martabat diri di masa berikutnya. Mereka mati-matian menjemput pendidikan meski harus berada di kaki kebijaksanaan negara orang. Keduanya juga orang-orang yang merayakan hidup dengan kesyukuran dan kerja keras..

Terlepas dari bumbu khas, gaya dan tipe karakter menulis yang mereka adonkan dalam karya-karya terbaik mereka, keduanya sejatinya adalah orang-orang sederhana yang memiliki pikiran global untuk membangun. Watak dan cara berpikir keduanya mengundang decak kagum.

Jika mereka berdua tidak pernah ada, tentu katak kan selalu tetap dalam tempurung dan mudah puas dengan keadaan.  Baik keadaan spiritual maupun pendidikan mental-educational. Takkan ada karya yang mengejar-ngejar semangat untuk berbuat lebih. Takkan sebanyak kini penulis yang termotivasi untuk menulis. Dan tentu saja istilah mega-seller takkan berdencing di dunia penerbitan pertiwi kita.

Maka demi semua keadaan yang kini telah bergeser semenjak keduanya hadir dan mendedikasikan karyanya dalam dunia kepenulisan, rasanya wajar, beliau berdua patut menerima hatur terimakasih. Semoga karya mereka berikutnya tak kalah bermanfaat dari apa yang telah mereka suguhkan saat ini. Jika keduanya tak pernah ada? Ah, sepertinya lebih banyak yang bersyukur karena keduanya benar-benar ada, dan generasi asli Bangsa Indonesia.