Wanita haid di Bulan Ramadhan?

27 09 2007

Jika bulan Ramadhan itu terdiri dari 30 hari, maka setidak-tidaknya selama 6 atau 7 hari dan maksimal 15 hari, seorang muslimah pada umumnya, tidaklah (dikenakan kewajiban) berpuasa karena sedang haid.  Sering nih, para muslimah bersedih karena merasa tak mendapat ‘jatah’ kesempatan beribadah sebanyak yang didapatkan para ikhwan/laki-laki di dalam Bulan Ramadhan. Yang parahnya, terkadang merasa Allah tidak adil dalam memberi status ‘muslimah’ dan fitrah yang harus dijalaninya. Sementara haid itu sendiri adalah sebuah ketetapan dari Allah dan Allah berkata, “Barang siapa yang bertawakal, maka Allah akan Menjadikan baginya jalan keluar”. Tentu saja sebuah ketetapan-Nya berlaku dengan perhitungan yang cermat pula. Ia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui dan Maha Mencintai hamba-Nya.  

Yang tidak adil itu justru diri kita yang merasa kesal, malas, sedih dan apapun itu, yang malah mencerminkan sikap lalai dan tidak bersyukur atas limpahan kasih sayang Allah yang memberikan rukhsah (keringanan) kepada para wanita muslim yang sedang ‘sakit’. Tak jarang kita juga mendalil-kan haid sebagai perisai kemalasan, melankolis, kesuntukan, menjarangnya amal, dan keringnya ruh. 

Ada beberapa saudari kita yang ketika haid, mereka sangat sengsara karena sakit yang melilit, bahkan sampai demam dan pingsan. Alhamdulillah, kita (saya dan sebagian besar kamu yang saya kenal) tidaklah sampai demikian. Kalau misalnya keringanan Allah ini tidak turun, tentunya merekalah yang paling kasihan. Semestinya kita bersyukur, tidak mendapat ujian ‘sakit’ sedemikian, namun tetap memperoleh keringanan ini dan tak perlu khawatir ttg pahala, karena ia tetap mengalir jika kita bersabar dan terus mengerjakan amal dan ibadah saja yang kita bisa. 

Muslimah hanya diharuskan untuk tidak shalat dan berpuasa (sementara untuk tilawah qur’an terdapat perbedaan pendapat), akan tetapi tidak dilarang untuk terus beraktifitas, bersedekah, berzikir sebanyak-banyaknya, tadabur (menyelami ayat-ayat) Al-Quran, membaca buku, mencari ilmu, menghadiri majlis ta’lim, mendengar ceramah, menolong orang yang memerlukan, belajar banyak ketrampilan, rapi-rapi (bersih-bersih), menyambungkan silaturahim dengan mengunjungi keluarga ataupun teman, olahraga  (yang ringan tentunya, karena sedang haid) dst. Hanya dua aktifitas ibadah utama (shalat dan shaum, dan tiga termasuk tilawah Quran bagi yang meyakini demikian), yang tidak harus dikerjakan, tapi mengapa malah hampir semua yang bisa kita lakukan justru kita tinggalkan? Malas, kesal, sedih, dan perasaan negatif lainnya, semua itu adalah bagian dari cobaan yang harus dilawan (insyaAllah berpahala kok, ketika melawannya). Jika kamu membutuhkan ulasan ttg hal ini, berikut ini ada sebuah blog yang mengulas ttg apa yang bisa seorang muslimah lakukan ketika sedang haid di bulan Ramadhan. (Silakan di-copy dan di-paste) Semoga bermanfaat. 

http://triplehasan.multiply.com/journal/item/2





Terima Kasih, Masih Kau jamu diriku hari ini

26 09 2007

Marhaban ya Ramadhan.

Terima kasih ya Allah. Segala puji hanya untukmu. Padahal aku sering lalai, namun masih Kau Kabulkan doaku. Masih Kau jamu diriku hari ini, dan Masih berdetak jantungku. Di bulan Ramadhan yang pernuh barakah ini, yang seringkali kulupa apa keistimewaannya yang luar biasa. Masih sering terabaikan olehku segala Kemurahan-Mu yang berlipat ganda. Ampunilah aku, kami. Tolonglah kami dalam menyusuri bulan berharga ini ya Rabb, dan sampaikanlah kami, kepada derajat hamba-Mu yang muttaqin. (Amin)