Melipat duka, Menebar Bahagia

1 10 2007

Apa yang ada jarang disyukuri

Apa yang tiada sering dirisaukan

Nikmat yang dikecap baru kan terasa

bila hilang… The Zikr (Dua Cinta) 

Pergi ke Bandung, mengenal banyak orang. Ternyata ini adalah pengalaman yang tidak makan waktu sehari dua hari. Ada proses tidak sebentar. Baik, buruk, senang, sedih, luka, suka, benci, dan cinta.Memang ada banyak kejadian yang menyesakkan, pemantik keluh, kesal dan ketidaksyukran. Namun kontradiktif dengan ending yang tersimpan di memoriku. Semua yang ditempuh telah berlalu, keringat dan air mata telah kering, menyisakan simpul manis. Manis sekali. 

Bila kubuat perumpamaan, dulu aku menganggap yang manis hanyalah gula saja. Namun hari ini, aku jadi teringat tips ibunda ketika membuat kolak. Paduan gula, santan, dan pandan akan sempurna bila diberi sedikit garam. Maka inilah yang disebut manis yang gurih. Jangan artikan hasil panen yang baik adalah hasil menanam tanpa pernah memberantas hama. Senyuman puas yang meringankan hati justru datang setelah mengerti, apakah yang tersembunyi di balik teka-teki.

Ketika seseorang bersedih, mengingat aku dan teman-temanku mungkin akan berpencar, kukatakan padanya, “Laa tahzan. Innallaha maa ana… Tidaklah diambil sesuatu oleh Allah, melainkan diberi ganti.” 

Bicara kurang, siapakah yang tak punya kekurangan?

Bicara salah, bukankah dari kesalahan itu kita tahu yang mana yang benar?

Bicara perpisahan, bukankah dengan ini kita mengerti apa arti sebuah pertemuan? 

Bertemu, berkumpul, bersaudara karena Allah. Ini adalah sesuatu yang tidak terjadi pada semua orang. Sungguh beruntung bila kita mengenyamnya bersama. Mengenal lapang dan menyentuhnya ukhuwah. Maka tak sepatutnya sedih yang digarisbawahi sebagai tanda perpisahan wajah.Tapi senyuman. Karena mudah-mudahan hati kita tetap disatukan. Karena satu perpisahan bermakna sejumlah pertemuan yang banyak di masa depan. Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan, amin.

Ustadzah Mimin Aminah di mesjid DT seminggu lalu berkata, “Mencintai itu membahagiakan. Bukanlah cinta bila membawa beban dan kesedihan…” Maka tak ada duka untuk kita, saudariku. Tersenyumlah, innallaha maa ana… :)