“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah :40)
“Laa tahzan, innallaha maa ana…” Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah Beserta kita…
Bagi Abu Bakar radiyallahu anhu, Rasulullah mengatakan kalimat ini untuk menentramkan hati sahabat yang paling dicintainya itu. sepotong kalimat tauhid yang mengingatkan bahwa Allah-lah sebaik-baik sekutu dan curahan berserah diri, sebagai mana juga pernah beliau pesankan kepada Ibnu Abbas:
“Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. at-Turmudzy)
Maka dalam dimensi pertama, kalimat “Laa tahzan, innallaha maa ana…” adalah ungkapan untuk meneguhkan hati seorang hamba-Nya yang sedang dilanda kecemasan dan goyah. Kalimat inilah penentram bagi manusia yang beriman, jaminan keselamatan dunia-akhirat yang tak ternilai harganya. “Maka Allah Menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan Membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.”
Lalu apakah maknanya dalam dimensi kedua?
“Laa tahzan, Innallaha maa ana…” adalah ungkapan bahwa Allah senantiasa bersama hamba-Nya. Jika kalimat ini dipecah, dan hanya menyisakan, “Innallaha maa ana,” maka kalimat ini mengajarkan kita semua untuk berlaku ihsan. Merasakan bahwa Allah selalu ada bersama kita, mengawasi kita, dalam setiap gerak langkah. Ini bisa berarti pertolongannya adalah dekat bagi orang-orang yang bertakwa, namun pengawasannya pun begitu ketat bagi hamba-hambanyanya yang berbuat maksiat. Bagi orang-orang yang melampaui batas, kalimat ini adalah seruan agar mereka tidak berputus asa. Karena Ia Maha Menerima Taubat hamba-Nya yang berlumur dosa.
“… Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hadid: 4)
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mujadilah: 7)
Benang Silaturahim