Lidah bisa saja bercerita tentang bermacam-macam hal, akan tetapi jati diri seseorang tentunya tak tak hanya dinilai sebatas mulut saja. Ada keterlibatan gerak-gerik, tingkah laku, sopan santun, dan paling prinsip ideologi di kepala, yang menentukan karakter seseorang.
Untuk berbaik sangka terhadap orang lain, kita boleh saja berkata, “Kata-katanya memang pedas, tapi niatnya baik kok…” Tapi untuk diri sendiri, upayakan agar tidak membela diri dengan kata-kata, “Niat saya baik kok…”
Satu hari aku pernah membaca sebuah artikel yang menggelitik. Sekalipun seseorang berteriak-teriak dengan pengeras suara ke sekeliling kampung, “Whoy, niat saya baik kok!” tetap saja takkan ada orang yang percaya ketika tindak-tanduknya malah menunjukkan indikasi sebaliknya. Sekalipun niat kita baik, akan tetapi cara menyampaikan kita minus, tak ubahnya kita ingin menanak nasi namun tidak tahu cara menggunakan alat memasaknya. Karena niat adalah sesuatu yang tersembunyi, dan karena itulah niat baik diganjar pahala oleh Allah. Akan tetapi jika hanya sampai pada niat saja, nilai kita takkan lebih dari nilai pada awalnya saja dan ini berarti ada pekerjaan yang tidak kita selesaikan di sini.
Niat yang baik alangkah bagusnya dibarengi dengan pembuktian sikap yang sesuai. Dari ini, penting sekali untuk kita belajar berperangai dan menerapkan itikad baik yang kita pegang dengan cara yang ahsan.
Benang Silaturahim