Rindu.
Satu kata yang untuk memaknakannya perlu mengerahkan seluruh perasaan. Aku seringkali memupuk hati dengan taburan kerikil, bahkan gelindingan bebatuan besar. Hingga hati ini terhimpit dan sakit, tak lagi punya saraf perasa.
Namun, di beberapa perhentian yang telah Allah Rencanakan, kerikil dan bebatuan ini seolah hancur begitu saja, diluluhlantak gelombang. Gelombang pemecah itu bernama HIDAYAH.
Rindu ini milik siapa?
Kadang-kadang, tiba-tiba rindu hadir dan menggelitik perlahan.
“Bangun…” sapanya lembut. Namun sentuhannya menampar. Tak jarang ia membuat kedua mataku merah dan basah. Bila sapuan gelombangnya tiba, tak daya diri ini terdampar di keasingan yang sangat. “Di titik manakah kini aku berada?”
Tiap hari, tiap kali, setiap mikro detik. Rutinitas seringkali menjadi momok pencaplok keikhlasan dan amal yang lurus.
Amat jarang hati ini di-set dan dipancangkan bendera keikhlasan. Prinsip dan hikmah yang telah digenggampun tak jarang berserakan, terbang bersama angin entah kemana. Tiba-tiba rasa begitu kesepian. Ditinggalkan, dan begitu jauh.
Rindu ini tak jarang menegakkan daguku untuk menatap rekan-rekan yang telah berlari begitu jauh di depan. Bahkan di depan sana, Rasulullah pun tak lagi kelihatan. DI manakah ia yang mulia dalam pandanganku?
Tak jarang ia membuatku terhenyak di suatu sudut, aku telah sangat surut, tertinggal di belakang.
Rindu ini milik siapa?
Aku begitu merindukannya. Begitu merindukan banyak jejak, banyak kisah, banyak momentum, banyak bayangan. Mereka yang akhlaknya begitu mulia tak jarang membuatku terisak. Rindu ini milik siapa?
Apakah yang hilang itu? aku tengah mencarinya. DI setiap tempat yang kupunya. Ya Allah, kembalikanlah aku pada titik yang paling Kau Sukai, Kau Ridhai. Jangan di tempat yang Kau Benci lagi Kau Murkai. Ampunilah aku ini…
Benang Silaturahim