Romantisme yang Terlalu

15 10 2007

water.jpg

Weleh, akhirnya aku masuk juga ke topik ini. Ada orang yang berkomentar, “It’s always hot when we talk about love and romanticism (O, really?)”.

Ups!~ Jangan berharap banyak dari apa yang ingin kutulis berikutnya. Ini hanya sebuah sentilan untuk diriku sendiri bay de wei…

Seringkali nih, kita berpuitis ria di hari raya. Mengirim sms riuh redam (apaan tuh riuh redam yah?). Menyimpan muatan lah intinya (ion positif, ion negatif… dan error).

Rasanya bosan juga lama-lama, mengoleksi berbagai sms hari raya, tapi umumnya puitis semata, tak ada ruh di sana. Atau, ada yang mengedepankan romantisme, yang terlalu… (sumuhun, abdi eta mah (inggih, itu aku :D)).

Euhm. Entah kadang, entah sering. Ketika potensi puitis ini muncul, Allah tak pelak Menjadi Tumpuan ke-puitisan kita. Tak ubahnya sufi, meluahkan banyak kata dalam mencurahkan hasrat penyembahannya kepada Allah. Ini tidak salah, dan tidak pula kusalahkan.

Namun, rasanya jika ini adalah sesuatu yang dikedepankan, rasio kemudian jadi mati. Puitis dan nyastra tentu sangat boleh, tapi jangan sampai kita cuma berpuitis, tanpa ada upaya untuk berubah~sesuai isi puitisasi kita.

MUdah-mudahan, kita dijauhkan dari perkara yang berlebih-lebihan. Dijauhkan dari menuhankan sastra dan syair sebagaimana Bangsa Arab di muka kenabian Rasulullah. Mudah-mudahan kepuitisan kita tak lain hanyalah sebagai luahan evaluasi dan curahan kolam bening, yang dapat memantulkan cahaya kebenaran.  

Mungkin sudah semestinya kita meniru pendahulu kita yang doa mereka diabadikan dalam Al-Quran:

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami

dan tindakan-tindakan yang berlebih-lebihan dalam urusan kami,

dan tetapkanlah pendirian kami,

dan tolonglah kami dari kaum yang kafir.”

(Q.S. Ali-Imran:147)