Menjadi Putih

30 11 2007

Aku termasuk seseorang yang memiliki harta berupa kerudung cukup banyak. Ada apa nih dengan kerudung-kerudung ini??? Ss..t.. Mau Tau?

Ada fenomena menarik yang melintas di benakku pagi ini.

Aku punya sejumlah kerudung putih. Herannya, meski usia ‘mereka’ tak jauh dengan kerudungku yang lain, yang putih ini lebih terlihat kalau sudah cukup sering dipakai. Lebih heran lagi. Sekitar 3 tahun lalu, aku meninggalkan sebuah kerudung putih yang kubuat sendiri untuk adikku yang waktu itu masih duduk di SMA. Aku pun punya kerudung dengan bahan yang sama berwarna merah hati. Namun, ketika kutemukan kembali. Kerudung ini telah begitu usang… berbeda dengan kerudung yang ada padaku.

Menjadi putih, atau menjaga sesuatu tetap putih, atau membuatnya terjaga bersih, ternyata adalah hal yang memiliki tantangan besar.

Sesuatu yang putih, akan begitu terlihat, manakala dikenai noda pun kotor. Beda dengan sekian warna lain. Sama halnya dengan menjaga diri dalam kebaikan, dan hati dalam ketenangan, jiwa dalam semangat, dan iman dalam kestabilan… Tantangannya banyak sekali, untuk dihadapi. (…Allah, Please keep us…)





Cerita tentang Kotaku

14 11 2007

Jambi. Alhamdulillah kupijakkan kembali kakiku di sini.

Melepas rindu, pada orangtua, adik bungsu, dan teman2ku.

Ceritanya, sedikit asing kini kota ini terasa. Setelah tiga tahun, hmh…

Yah, penyesuaian diri lagi, again.

Menarik, begitu terasa, perbedaan Jmabi and Bandung, of course atuh nyak?!

Ya Allah, maa khalaqta hadza batilaa:)

(Hei frenzz, where are y’all?!) 





Pada Kenyataannya

2 11 2007

lantern-2.jpg

Pada kenyataannya, kita hanya bisa memberi perubahan pada kehidupan di sekeliling kita dengan berbuat hal-hal yang berarti.

Pada kenyataanya, kita bisa memperoleh Ridha dan pahala dari Allah, juga hanya dengan berbuat amal kebaikan.

Pada kenyataannya, kita hanya bisa berubah lebih baik, hanya dengan melakukan yang terbaik.

Pada kenyataanya, jika ingin meninggalkan keburukan, kita harus berbuat banyak amal yang bisa memenuhi waktu kita dalam kebaikan.

 Pada kenyataanya, sedih bisa dihapus dengan bertawakal, bergantung dan menitipkan segalanya, segalanya, hanya pada Allah yang Menjadikan kita dan segala peristiwa ada.

Pada kenyataannya, kebahagiaan adalah sesuatu yang ditangguk dan dirangkum oleh kita sendiri, dari sekian banyak peristiwa yang disukai maupun tidak.

Pada kenyataanya, meski hati itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dikondisikan, ia akan melunak jika ditetesi iman, keyakinan, kebaikan, amal kebajikan, taubat, dan akan mengeras jika dibalur dengan dosa, lalai dan perbuatan tercela.

Pada kenyataannya, dunia ada dalam genggaman orang-orang yang berbuat lebih banyak untuk dunianya, dan akhirat digenggam oleh orang-orang yang berbuat lebih kencang untuk akhiratnya. Baik syurga sejati dunia maupun akhirat, Diwariskan Allah bagi orang-orang yang berbuat lebih banyak dan seimbang antara dunia dan akhiratnya.

Pada kenyataannya, mau menjadi apa kita, keputusannya ada pada diri ini. Orang lain hanyalah tim sorak yang mendorong ataupun menjatuhkan. YAng memutuskan utnuk maju atau mundur, untuk bangkit atau menjadi pengecut, adalah diri ini.

Pada kenyataannya, jika kita mau, kita bisa berbuat banyak hal hebat, yang tak pernah terbayangkan sebelum kita mencobanya.

Pada kenyataannya, kita takkan pernah sampai pada esensi amal yang baik dengan mengabaikan Al-Quran maupun melemparkan sunah utusan-Nya yang begitu mulia.

Pada kenyataannya, kitalah yang menyiksa diri kita, dengan selaksa kebodohan, kepongahan, keangkuhan, perfeksionisme, kebencian, kesempitan hati untuk memaafkan, banyak mengeluh, rendah diri yang berkelebihan, cemas tidak karua, ataupun malas yang luar biasa.

Pada kenyataannya, kita bisa membuat diri ini benar-benar bahagia, dengan membuat orang lain bahagia, berbagi, bersedekah, bersilaturahim dan melepaskan segala hal-hal yang menyakitkan.

Ucapan, “Terima kasih. Jazakumullahu khairan katsira..” yang tulus dari orang lain adalah cermin bahwa kita telah membagi sesuatu yang berharga. Dan ini jangan mimpi kalimat ini akan sampai pada kita, dengan tanpa berbuat apa-apa. 

Hanya ada dua jalan, pada kenyataanya, untuk kita pilih.

Fujuraha (lalai, bangkang, acuh, sempit, picik~ lihat berapa banyaknya bencana akibat keacuhan seseorang pada diri dan sekelilingnya)

atau …

Takwaha (patuh dengan mengerahkan semua upaya dalam apa yang Dikehendaki oleh Rabb Yang Menjadi Arsitek Maha Suci Maha Jeli dari diri ini).

Hai orang yang berselimut

bangunlah,

lalu berilah peringatan!

dan Tuhanmu agungkanlah,

dan pakaianmu bersihkanlah,

dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

(Q.S. Al-Mudatstsir: 1-7)