Ketulusan yang Sering Ditertawakan

16 09 2008

 

Suatu hari Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Dua orang pemuda melintas di depan mereka. Yang satu berpenampilan rapi dan yang satu lagi lusuh. Rasul bertanya pada sahabatnya tentang pendapat mereka terhadap kedua pemuda tersebut. Menjawab seorang sahabat;

“Pemuda pertama, jika ia bicara patut didengarkan. Jika ia melamar, patut diterima. Sedang pemuda kedua, jika ia bicara mesti diabaikan. Dan jika melamar, patut ditolak.”

Rasul tersenyum lalu berkata, “Sesungguhnya pemuda kedua adalah lebih mulia.” (silakan mencari riwayat hadits ini secara lengkap)

Abdullah ibnu Mas’ud adalah salah seorang sahabat Rasul yang sering diolok-olok karena bentuk betisnya. Rasulullah mencela orang-orang yang mengolok Ibnu Mas’ud dengan berkata,

“Kedua betis Ibnu Mas’ud itu jauh lebih berat daripada Gunung Uhud bila ditimbang di sisi Allah.”

Rasul saw sendiri pernah ditegur langsung oleh Rabb semesta alam karena mengabaikan seorang buta yang datang dalam majelisnya.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!” (Q.S Abasa: 1-11)

Itulah beberapa potret yang mencerminkan betapa minimnya kemampuan manusia untuk bisa menilai kemuliaan orang lain. Dan bedanya kita dengan utusan Allah yang sangat mulia itu, Rasulullah adalah insan yang dijaga dari berbuat khilaf, salah dan dosa, tapi tidak demikian kita ini.

Di jaman ini, hal-hal yang benar seringkali dijadikan bahan candaan. Hal-hal yang lurus dijadikan bahan sindiran. Ketulusan dan kejujuran ditertawakan. Seseorang berkomentar, “Susah sih, sekarang tuh nemuin orang jujur!” Komentar yang lucu. Karena yang mengucapkan sendiri tak pernah bersungguh-sungguh membuat dirinya menjadi orang jujur. “Ah. Orang jujur tak pernah beruntung! Bisa makan batu!” sambut yang lain. Oh begitukah? Apakah Tuhan itu kurang cerdas hingga Memerintahkan hamba-Nya menyusuri jalan lurus tanpa memberi bimbingan dan pertolongan di setiap jengkal jalan tersebut? Hmh?

Ada cerita menarik. Seorang guru SMA favorit di Bandung pernah ditertawakan karena memunguti uang receh seratus di jalanan. “Buat apa sih, Bu?” ujar kolega mengajarnya. “Sudah kaya, kok mungut-mungut uang receh begitu…!” Sang guru yang disindir acuh saja. Dia tak peduli komentar miring temannya tadi. Memang benar. Beliau sendiri adalah orang mapan. Suaminya pensiunan dosen. Putra-putrinya tersebar berkarir di Amerika, Hongkong, Jakarta dan Bandung. Karir yang halal dan prestisius. Mapan semua. Lalu untuk apa receh itu? Diam-diam beliau memunguti uang itu dan mengumpulkannya dalam sebuah kantong khusus. Dan nanti jika kantong tersebut sudah penuh dan berat, ketika ia melihat ada pengemis yang melintas di depan rumahnya, ia akan memberikan seluruh isi kantong tersebut pada pengemis tersebut. Dan beliau bersyukur bisa berbuat seperti itu. Beliau juga yakin rizkinya yang lapang datang sebagai berkah sedekah melalui caranya sendiri. Sementara teman-temannya dan orang lain sering menertawakan bila ia memunguti uang receh di jalanan.

Nah. Jika ada pertanyaan, siapakah manusia yang bisa mengetahui hati orang lain? Jawaban kita pada umumnya, tidak seorangpun mengetahui pasti hati orang lain. Siapa manusia yang bisa menilai seseorang itu tidak mulia di sisi Tuhan Yang Maha Mengetahui? Tidak seorang juga mengetahui. Tapi kenapa kita sering menertawakan perbuatan orang lain, yang menurut kita tidak wajar. Wajar menurut standar yang kita buat.

Apakah kita ini begitu sempurnanya hingga ketika menemukan kesalahan orang lain, kita lantas mengolok-olok orang tersebut? Apakah kita ini begitu mulianya, sehingga jika menemukan cela dari orang lain, kita langsung menyebarkannya? Dengan mulut ini, mengumbar hal-hal yang membuat seseorang begitu buruk di mata orang banyak? Apakah kita sendiri sudah mengevaluasi perbuatan diri, mengukur amal diri, mengecek keikhlasan dan ketulusan hati?

Apakah sudah sedalam samudra ilmu kita hingga mencela kebodohan orang lain? Apakah sudah setinggi angkasa amal kebajikan kita hingga pantas mencemooh kekhilafan teman sendiri? Apakah kita yakin tak punya setitikpun kekurangan diri hingga patut mengekspos kekurangan orang terdekat?

Sebelum menertawakan apa yang orang lain perbuat, sepertinya kita harus puas-puas dulu menertawakan kesalahan diri sendiri. Menertawakan hingga kejang perut. Hingga tidak ada lagi cela, tidak ada lagi kesalahan, tidak ada lagi keburukan. Lalu jika sudah yakin sempurna diri, memiliki hati seputih salju, setakwa malaikat, semulia para Nabi Allah, tertawakanlah orang lain.

Jika memang ingin mengkoreksi, sampaikanlah dengan baik. Langsung kepada yang bersangkutan, agar ia mengetahui apa yang patut ia perbaiki. Jika diterima bersyukur, tidak pun kewajiban telah luntur. Dan jika tidak bisa mengkoreksi, tak ada untungnya kita mengumbar keburukannya dengan melantur. Oops … dengan itu kita malah menggali kubur. Kuburan kemuliaan, ketulusan, dan akhlak sendiri yang hancur.

“Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya: Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Ya Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesama muslim itu bersaudara. Karena itu, jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

 


Actions

Information

Leave a comment