Membaca Menyibak Tirai Dunia

20 09 2008

“Ada dunia lain (yang luas) yang dulu tidak kuketahui…” kisah Oprah Winfrey, seorang presenter Amerika yang dikenal, ketika suatu kali bercerita tentang membaca di masa kanak-kanaknya. Menemukan dirinya melangkah meninggalkan ketidaktahuan kepada ilmu pengetahuan. Dari kesempitan kepada keleluasaan dan kelapangan. Dari gelap kepada cahaya, yang jika diteruskan insyaAllah akan sampai pada Cahaya atas cahaya.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S Ibrahim: 1)

Tiap orang mungkin pernah mengalami seperti yang Oprah alami. Menemukan sesuatu yang luas ketika mulai menikmati kegiatan membaca, dan memang, membaca sama artinya dengan menyibak tirai berlapis-lapis yang menutup mata kita. Seseru petualangan menemukan harta karun. Seheboh genderang penyambutan tamu agung. Sesegar udara berhembus dari pegunungan. Sesejuk air di tengah padang pasir tandus.

Tapi tunggu. Membaca takkan memberikan harta karun berharga jika yang dibaca itu sia-sia. Juga takkan menyegarkan akal atau meng-kinclong-kan otak sejauh kita belum berpikir karena membaca adalah berpikir. Bagaimana dengan hasil pemikiran itu? Itulah yang akan menjadi hasil fotosintesis ini. Ia akan mengambang perlahan di permukaan konsep berpikir. Jika dosisnya terus ditingkatkan, ia akan larut dan mengendap menjadi pemikiran, pola berpikir. Maka ada dua hal penting yang harus diperhitungkan dalam membaca bagi seorang muslim.

 

Apakah Dua Hal Penting Itu?

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

(Q.S. Al-Alaq: 1-5)

           

Dr. Raghib As-Sirjani, penulis buku Spiritual Reading, mengingatkan dua syarat dalam membaca. Pertama, dengan menyebut nama Allah sesuai dengan perintah Allah, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” Maka tentu saja yang dibaca itu sepatutnya bukan sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena ia diniatkan atas nama Allah Pencipta Ilmu itu sendiri, untuk kebaikan dunia akhirat. Maka hati-hati, karena membaca ilmu pengetahuan jualah yang membuat manusia merasa pandai hingga membangun istana di tepi jurang menuju Jahannam.

Kedua, membaca tidak membuat kita congkak. Karena sadar diri bahwa kita sebelumnya miskin, lalu diberi harta. Kita tadinya buta dan kelaparan, kemudian kita diberi penglihatan dan makanan yang layak. Apakah kita sebagai orang yang baru saja mendapat berkah seperti itu tiba-tiba berani petantang-petenteng di hadapan Yang Memberi?

“Hal ini tidak boleh dilupakan oleh pencari ilmu selama-lamanya, meski ia sudah mencapai ilmu tercanggih pun di masanya,” tegas Dr. Raghib As-Sirjani. Karena Allah-lah Yang Mengajarinya. Dengan prinsip ini, seluruh kemampuan ilmu dan semangat membaca haruslah diupayakan untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Mengupayakannya untuk hal-hal yang disukai-Nya, bukan yang dibenci.  

            Ingat ya. Ada dua prinsip. Pertama, bukan yang dibenci Allah. Kedua, tidak menjadi sombong. Sesudah mendapatkan pokok-pokok penting ini, silakan mulai memilah apa saja yang kamu temukan dalam petualanganmu dan … Selamat membaca!

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)


Actions

Information

Leave a comment