“Ketika keduanya muncul, penulis lain seolah tiarap…”
Kalimat itulah yang melintas di benakku saat menggores-goreskan pena untuk menggambarkan kedua penulis yang kini begitu tersohor. Tapi aku segera membenahi kalimat tersebut, mungkin ini berlebihan pikirku. Pujian yang tidak proporsional hanya akan membuat pihak yang dipuji menjadi oposisi dan terkesan tidak terjangkau. Akibatnya, bisa-bisa mereka menerima kritik yang keras jika kelak membuat sesuatu yang dianggap kekurangan atau cela, atau juga terlalu diteliti tiap jejak dan sepak terjangnya.
Baiklah, kita masuk ke inti cerita. Beberapa hari lalu aku membaca sebuah blog yang memperbandingkan kedua penulis Indonesia, Andrea Hirata dan Habibrurrahman El-Shirazy yang lebih akrab disapa Kang Abik. Masing-masing orang punya pendapat tersediri mengenai dua penulis kebanggaan Indonesia ini. Bolehlah dibilang, tanpa keduanya, sastra Indonesia tidak akan seheboh saat ini.
Aku akan menarik garis besar saja dari kapasitas keduanya, yaitu menulis novel, sebuah karya sastra yang tidak sembarang.
Jika biasanya sebagian novel itu bersifat memaksa. Memaksa otak untuk bertempur berat demi memahami diksi yang susah dan metafor yang absurd. Maka kali ini, kita mendapati karya sastra berupa novel-novel tebal yang sejauh ini dibahasakan dengan rinci agar dapat dipahami.
Jika biasanya, sebagian karya sastra novel memuat dunia imajiner yang tidak menapak di bumi, kali ini kita mendapati novel dengan setting dan cerita yang clear.
Jika biasanya, sebagian karya sastra yang dianggap bagus itu dari luar negeri, kali ini luar biasa. Dari negeri Indonesia! Negeri kita sendiri.
Kedua penulis kita ini memiliki beberapa kesamaan tentang beberapa hal.
Keduanya sama-sama berpikir bagaimana sebuah karya sastra biisa berefek luas. Bagaimana agar dapat membangkitkan semangat memble bangsa Indonesia. Bagaimana dapat menggedor semangat kemandirian dan karakter tahan banting generasi muda. Bagaimana agar ide-ide brilian sampai kepada masyarakat. Bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampaikan paparan yang sebenarnya cukup pelik dipahami awam dalam karya tulis lain.
Berdasarkan latar belakang, keduanya mengaku berangkat dari keluarga jelata, dan rela pergi jauh dari tanah airnya demi menenggang nasib keluarga, dan martabat diri di masa berikutnya. Mereka mati-matian menjemput pendidikan meski harus berada di kaki kebijaksanaan negara orang. Keduanya juga orang-orang yang merayakan hidup dengan kesyukuran dan kerja keras..
Terlepas dari bumbu khas, gaya dan tipe karakter menulis yang mereka adonkan dalam karya-karya terbaik mereka, keduanya sejatinya adalah orang-orang sederhana yang memiliki pikiran global untuk membangun. Watak dan cara berpikir keduanya mengundang decak kagum.
Jika mereka berdua tidak pernah ada, tentu katak kan selalu tetap dalam tempurung dan mudah puas dengan keadaan. Baik keadaan spiritual maupun pendidikan mental-educational. Takkan ada karya yang mengejar-ngejar semangat untuk berbuat lebih. Takkan sebanyak kini penulis yang termotivasi untuk menulis. Dan tentu saja istilah mega-seller takkan berdencing di dunia penerbitan pertiwi kita.
Maka demi semua keadaan yang kini telah bergeser semenjak keduanya hadir dan mendedikasikan karyanya dalam dunia kepenulisan, rasanya wajar, beliau berdua patut menerima hatur terimakasih. Semoga karya mereka berikutnya tak kalah bermanfaat dari apa yang telah mereka suguhkan saat ini. Jika keduanya tak pernah ada? Ah, sepertinya lebih banyak yang bersyukur karena keduanya benar-benar ada, dan generasi asli Bangsa Indonesia.
Benang Silaturahim